CELOTEH TERAS GUBUK
Oleh : Reski Halomoan
Mahasiswa Ilmu Politik Unand
9 april 2014 [04.00]
Subuh itu, jam
dinding menari eksotis tepat di pukul 04.00 wib. Hari ini adalah hari
kebebasan, saat dimana pesta demokrasi terbesar disemarakkan dari ujung ke ujung
negeri. Tanpa ragu tepat 2 menit lewat jam 4 itu aku melaju menuju batas negeri,
sebuah nagari dipenghujung negeri tempat garam-garam kehidupanku berserakan. Sesekali
ku lirik ke tepi jalan di remang-remangnya subuh itu, seorangpun tak ku jumpa. Terlelap
mereka dalam tidur pulasnya menikmati dinginnya udara yang merembes lewat
pilah-pilah papan itu.
Stagnan di 80 km/jam
melaju tanpa batas, saya penguasa jalan dalam kelam itu karena tidak ada lawan
adu cepat. Lima jam meremas stang dua roda mengantar sampai di gubuk lapuk tua,
tempat ku mengukir sejuta mimpi. Berbondong penghuni kampung bak berbagi
sembako, lalu lalang dari hilir ke mudik dengan secarik kertas. Bukan ternyata
hendak belajar mereka, bukan pula ujian nasional macam anak SMA. Kertas ternyata
undangan ke TPS, memilih caleg jagoan itulah dia ‘pautan’ dan ‘beru-beru’
menawan hatinya.
Saya rebahkan
beberapa menit ‘pamatang’ menikmati review perjalanan panjang itu. Riak air
menanti badan yang lelah, langsung ku bergumam dengan air pedesaan yang khas
diujung negeri, ah lelah bercucuran dalam helaan syahdu riak air desaku. Ku
melangkah perlahan menuju gubuk tua berkumpulnya orang-orang desa, sapa-menyapa
akrab kawan lama, kampanye dialogis singkat mereka tentang caleg jagoannya. Projeck
bersama ternyata ada tentang politik cubit-cubitan kepentingan. Saya haturkan
senyum pertanda setuju perlawanan tidak ada.
Masuk saya kebilik
suara dengan empat paket manusia-manusia pilihan, ada paku dan bantalan didalam
bilik. Kuat-kuat saya pegang paku itu, tak tega diriku pada dirinya. Ku
pejamkan sebelah mata, rekk.. suara kertas robek terpaku olehku kepalanya.
Maafkan daku pak, diapun tersenyum ria melihatku saat kulipat kembali. Anggota
KPPS membimbing ke kotak suara, masuk pun semua kertas itu kedalamnya. Lega
rasaku, lima jam berpacu untuk merobek kertas-kertas itu.
Terlanjur basah pun
aku berkunjung ke desa sebelah tak jauh dari gubukku, sapa-menyapa dalam jilid
2. Partai-partai tua menghampiri, mengenang tiga setengah tahun silam aku
berceloteh-celoteh dihadapan mereka. Seketika uban-uban saya memutih dalam
pikirku, sesekali tawa ‘gait’ kami keluarkan. Tulang itupun pandai sekali,
lantunan tawa politis di sudahi menutup tawa ‘gait’ itu. Berbincang kami sampai
ke afrika dalam duduk itu, satu dua berdatangan memanaskan diskusi parlemen
teras dikala itu.
Tercengang saya
melirik tuan buncit, daun-daun hijau dikeluarkan dari celana panjangnya. Senyum
pun mereka pada tuan itu, pembalut rokok ternyata daun itu dalam rupiah. Pertama
kali saya baru melihat tuan tadi, ujar tulang itu caleg berilmu pilihan. Terbagi
habis daun hijau dalam sakunya beranjaklah ia meninggalkan gubuk orang-orang
desa berkumpul. Betul saya kasihan pada si punya batang, ambil daunnya makan
buahnya, bakar batangnya terucap satu mereka.
Berlanjut terus pun
celoteh-celoteh kami di teras gubuk samping lapangan hijau, terdengar oleh saya
nada fals dari dalam gubuk. Otot pura-pura saya meregangkan, berdirilah saya. Gubuk
terdekati oleh saya dalam langkah santai, kertas berkumpul dalam tangan
kirinya. Berceramahpun ia kepada dayang-dayang gubuk, menang pun ia prediksi
saya laksana diadu dalam Pildacil. Hendaklah ia menukar kertas dengan kertas
pula.
Dayang-dayang seksi
bermuka pucat, setuju lah mereka pada si itu sesepuh. Orasi ilmiah bak
akademisi ulung dalam hening sepoi angin didesa kecil sunyi. Tertunduk saya
sejenak agak lama, didalam riuh celoteh teras tulang-tulang itu. Salam lah saya
hendak keliling lagi, garuda saya cari kearah atas tak pun berjumpa. Terpikir
oleh saya, maupun kita anak sapi pilihpun kita anak singa. Tak berjumpa
dikemudian hari wahai garuda.
Sempat lah saya
berkunjung dalam gubuk lain di daerah dekat perbatasan, banyak celoteh teras
gubuk lalui disana. Berbias-bias dalam catatan segudang ilmu baru dalam
gubuk-gubuk batas negeri. Penat sungguh disenja hari, berbaringlah badan ini
demi melaju keperkotaan besok hari. Terpejamlah ia hingga celoteh ini pun
diakhiri.

