Jumat, 25 April 2014

CELOTEH TERAS GUBUK


CELOTEH TERAS GUBUK
Oleh : Reski Halomoan
Mahasiswa Ilmu Politik Unand

9 april 2014 [04.00]
Subuh itu, jam dinding menari eksotis tepat di pukul 04.00 wib. Hari ini adalah hari kebebasan, saat dimana pesta demokrasi terbesar disemarakkan dari ujung ke ujung negeri. Tanpa ragu tepat 2 menit lewat jam 4 itu aku melaju menuju batas negeri, sebuah nagari dipenghujung negeri tempat garam-garam kehidupanku berserakan. Sesekali ku lirik ke tepi jalan di remang-remangnya subuh itu, seorangpun tak ku jumpa. Terlelap mereka dalam tidur pulasnya menikmati dinginnya udara yang merembes lewat pilah-pilah papan itu.

Stagnan di 80 km/jam melaju tanpa batas, saya penguasa jalan dalam kelam itu karena tidak ada lawan adu cepat. Lima jam meremas stang dua roda mengantar sampai di gubuk lapuk tua, tempat ku mengukir sejuta mimpi. Berbondong penghuni kampung bak berbagi sembako, lalu lalang dari hilir ke mudik dengan secarik kertas. Bukan ternyata hendak belajar mereka, bukan pula ujian nasional macam anak SMA. Kertas ternyata undangan ke TPS, memilih caleg jagoan itulah dia ‘pautan’ dan ‘beru-beru’ menawan hatinya.

Saya rebahkan beberapa menit ‘pamatang’ menikmati review perjalanan panjang itu. Riak air menanti badan yang lelah, langsung ku bergumam dengan air pedesaan yang khas diujung negeri, ah lelah bercucuran dalam helaan syahdu riak air desaku. Ku melangkah perlahan menuju gubuk tua berkumpulnya orang-orang desa, sapa-menyapa akrab kawan lama, kampanye dialogis singkat mereka tentang caleg jagoannya. Projeck bersama ternyata ada tentang politik cubit-cubitan kepentingan. Saya haturkan senyum pertanda setuju perlawanan tidak ada.

Masuk saya kebilik suara dengan empat paket manusia-manusia pilihan, ada paku dan bantalan didalam bilik. Kuat-kuat saya pegang paku itu, tak tega diriku pada dirinya. Ku pejamkan sebelah mata, rekk.. suara kertas robek terpaku olehku kepalanya. Maafkan daku pak, diapun tersenyum ria melihatku saat kulipat kembali. Anggota KPPS membimbing ke kotak suara, masuk pun semua kertas itu kedalamnya. Lega rasaku, lima jam berpacu untuk merobek kertas-kertas itu.

Terlanjur basah pun aku berkunjung ke desa sebelah tak jauh dari gubukku, sapa-menyapa dalam jilid 2. Partai-partai tua menghampiri, mengenang tiga setengah tahun silam aku berceloteh-celoteh dihadapan mereka. Seketika uban-uban saya memutih dalam pikirku, sesekali tawa ‘gait’ kami keluarkan. Tulang itupun pandai sekali, lantunan tawa politis di sudahi menutup tawa ‘gait’ itu. Berbincang kami sampai ke afrika dalam duduk itu, satu dua berdatangan memanaskan diskusi parlemen teras dikala itu.

Tercengang saya melirik tuan buncit, daun-daun hijau dikeluarkan dari celana panjangnya. Senyum pun mereka pada tuan itu, pembalut rokok ternyata daun itu dalam rupiah. Pertama kali saya baru melihat tuan tadi, ujar tulang itu caleg berilmu pilihan. Terbagi habis daun hijau dalam sakunya beranjaklah ia meninggalkan gubuk orang-orang desa berkumpul. Betul saya kasihan pada si punya batang, ambil daunnya makan buahnya, bakar batangnya terucap satu mereka.

Berlanjut terus pun celoteh-celoteh kami di teras gubuk samping lapangan hijau, terdengar oleh saya nada fals dari dalam gubuk. Otot pura-pura saya meregangkan, berdirilah saya. Gubuk terdekati oleh saya dalam langkah santai, kertas berkumpul dalam tangan kirinya. Berceramahpun ia kepada dayang-dayang gubuk, menang pun ia prediksi saya laksana diadu dalam Pildacil. Hendaklah ia menukar kertas dengan kertas pula.

Dayang-dayang seksi bermuka pucat, setuju lah mereka pada si itu sesepuh. Orasi ilmiah bak akademisi ulung dalam hening sepoi angin didesa kecil sunyi. Tertunduk saya sejenak agak lama, didalam riuh celoteh teras tulang-tulang itu. Salam lah saya hendak keliling lagi, garuda saya cari kearah atas tak pun berjumpa. Terpikir oleh saya, maupun kita anak sapi pilihpun kita anak singa. Tak berjumpa dikemudian hari wahai garuda.

Sempat lah saya berkunjung dalam gubuk lain di daerah dekat perbatasan, banyak celoteh teras gubuk lalui disana. Berbias-bias dalam catatan segudang ilmu baru dalam gubuk-gubuk batas negeri. Penat sungguh disenja hari, berbaringlah badan ini demi melaju keperkotaan besok hari. Terpejamlah ia hingga celoteh ini pun diakhiri.

Minggu, 19 Januari 2014

Malaikat Menanti



Meriza Mawarni Siregar
Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi

Malaikat Menanti
Wahai sang pemilikhati
Yang maha menjaga hati
Rinduku ini semakin membuncah
Rinduku semakin meradang

Seiring terbenam matahari
Seiring bergema kumandang azan magrib
Saat ia menutup sore
Rinduku semakin menjadi

Padamu wahai sang malaikat
Malaikat tanpa sayap
Sang malaikat yang selalu menunggu
Menanti kepulangan
Menanti sejuta cerita
Menanti dengan ribuan kesabaran
Menantiku di depan pintu rumah
Dengan senyum yang menawan
Kau ibu…
Salam cinta untukmu
Aku menyayangimu


Minggu, 22 Desember 2013

Hasil Musyawarah IKAMSI


FITRA HAYATI 
Kabid Media dan Pemberdayaan Masyarakat

Hasil Musyawarah IKAMSI
T.Imam Bonjol Padang, 22 Desember 2013

Berdasarkan hasil musyawarah kita pada tanggal 22 Desember 2013 di T.Imam Bonjol Padang maka diperoleh hasil sebagai berikut:

1.Pembahasan program kerja bidang media dan pemberdayaan masyarakat (OK)

A. Jangka Pendek
1. Membentuk tim karya tulis IKAMSI.
2. Membuat Blog IKAMSI sebagai sarana sosialisasi, komunikasi dan transparansi organisasi.
B. Jangka Panjang
1. Mengikuti berbagai event atau lomba karya tulis baik tingkat lokal maupun nasional oleh tim karya tulis IKAMSI.
2. Mengelola Blog IKAMSI sebagai media organisasi.
(Kabid MPM : FITRA HAYATI)
2.Pembahasan program kerja bidang keagamaan (OK)
A. Jangka Pendek
1. Siraman qalbu (pembacaan ayat suci Al-Qur’an).
2. Kaligrafi arab (1x sebulan).
B. Jangka Panjang
1. Mengadakan acara silaturrahmi alumni.
(Kabid Keagamaan : Yasir Umri)
3.Mengadakan acara rihlah/tour organisasi/jalan-jalan ke pantai gondariah Pariaman.
        Acara dilaksanakan pada tanggal 1 januari 2014, setiap anggota dikenakan biaya sebesar Rp 20.000/orang dan diserahkan kepada saudari Rita Novia.
4.Pertemuan selanjutnya pada tanggal 29 desember 2013 di T.Imam Bonjol Padang pkl 14:00 wib

Selasa, 26 November 2013

Demokrasi Pancasila Vs Demokrasi Liberal


RESKI HALOMOAN
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas

Demokrasi Pancasila Vs Demokrasi Liberal
         
     Pembicaraaan mengenai demokrasi tidak akan kunjung usai sampai kapan pun, karena manusia akan selalu mencari bentuk yang sesuai dan ideal dengan kebutuhan negaranya sejalan dengan dinamisasi kebutuhan suatu negara. Paling tidak ada dua poin penting ketika berbicara masalah demokrasi, yaitu kebebasan dan persamaan. Bentuk demokrasi yang diterapkan ditiap negara akan berbeda meskipun mempunyai persamaan dalam sifat-sifat dasar dari demokrasi itu sendiri. Indonesia adalah satu negara yang menganut demokrasi, namun demokrasi yang dipakai mempunyai perbedaan dengan demokrasi yang dipakai negara lain.
          Indonesia mengambil dasar negara (Pancasila) sebagai pondasi dalam menegakkan demokrasi, lahirlah istilah demokrasi pancasila. Demokrasi pancasila pada dasarnya merupakan kristalisasi dari nilai luhur bagsa. Demokrasi pancasila berbeda dengan demokrasi liberal karena demokrasi yang kita anut bersumber pada nilai-nilai yang ada didalam kehidupan masyarakat Indonesia.
          Secara sederhana, perbedaan antara demokrasi pancasila dengan demokrasi liberal dapat dilihat dari penekanan masing-masing. Demokrasi pancasila menekankan pada semangat kekeluargaan/kebersamaan dan kebebasan personal yang bertanggung jawab kepada masyarakat. Sedangkan demokrasi liberal menekankan pada semangat individualistik dan kebebasan personal[1]. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila menjadikan demokrasi yang kita anut identik dengannya, misalnya sila keempat menunjukkan bahwa musyawarah mufakat merupakan ciri khas dari demokrasi pancasila.
          Persoalan nilai yang terdapat dalam demokrasi, menjadikan demokrasi pancasila berbeda dengan demokrasi liberal. Bahkan pancasila adalah jati diri bangsa Indonesia yang menjadikan kita berbeda dan unik dari negara-negara lain di dunia. Jikalau kita benar-benar konsisten dalam menegakkan demokrasi pancasila yakinlah kita akan maju tentunya dengan nilai-nilai khas bangsa ini, bukan me-nasionalisasikan nilai-nilai bangsa lain yang belum tentu cocok dengan culture bangsa Indonesia. Malangnya, dewasa ini nilai-nilai pancasila itu telah memudar dari dalam diri pemiliknya sendiri, dalam praktiknya bangsa kita telah mulai mengamalkan demokrasi liberal dan menjadikan demokrasi pancasila sebagai pajangan. Diibaratkan sebuah buku, cover (kulitnya) bertuliskan demokrasi pancasila namun jika dibuka lembar demi lembar isinya adalah demokrasi liberal.
Vooting Culture
          Budaya vooting sudah menjadi patokan dalam berdemokrasi. Bahkan banyak yang mengartikan demokrasi sebagai vooting atau suara terbanyak. Memang, kalau kita mengamati realita dari dinamika politik yang terjadi disekeliling kita, akan terbukti bahwa demokrasi memang sudah sama dengan vooting. Dan pada kenyataannya vooting telah menjadi budaya dalam masyarakat, bangsa dan negara.
          Tujuan vooting tidak lain adalah memperoleh keputusan dengan mengambil suara terbanyak. Suara terbanyak atau dominan menjadi patokan untuk mengambil keputusan, tidak peduli benar atau salah yang jelas suara terbanyak. Misalkan saja penentuan “bail out century” menyimpang atau tidak, para wakil rakyat sibuk membahas dari A sampai Z dan ahirnya vooting menjadi pilihan favorit. Begitu juga dengan penentuan kenaikan harga BBM, vooting lagi, lagi dan lagi menjadi alternatif. Vooting telah dijadikan sebagai “rumus matematika” atau rumus pasti dalam berdemokrasi dewasa ini.
          Bagaimana vooting culture dalam perspektif pancasila ?, Indonesia yang menganut demokrasi pancasila tentu harus mendasarkan praktik demokrasinya kepada pancasila. Didalam demokrasi pancasila sesungguhnya hal yang paling penting adalah musyawarah mufakat. Kualitas dan wibawa para pengambil keputusan akan terlihat disitu, bukan mengandalkan suara terbanyak atau vooting. Alasannya sederhana saja :
          “Tidak logis, pendapat doktor atau pakar disamakan bobotnya dengan pendapat tamatan SMA atau artis sinetron”
          Jikalau semua dipukul rata dengan vooting atau suara terbanyak dalam pengambilan sikap dan keputusan tentu sangat menyedihkan. Karena vooting sudah jelas tidak sesuai dengan nilai demokrasi pancasila. Nilai demokrasi pancasila adalah musyawarah mufakat, bukan vooting culture. Didalam musyawarah mufakat itulah sesungguhnya tercermin nilai-nilai khas bangsa Indonesia.
          The founding father bangsa telah mewujudkan nilai-nilai musyawarah mufakat tersebut. Kita masih ingat bagaimana bapak pendiri bangsa mengambil keputusan bunyi sila pertama (sila 1) pancasila. Pada awalnya sila pertama berbunyi : ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya. Lantas rakyat Indonesia bagian timur khususnya, mereka melakukan protes karena mereka bukan beragama islam dan kemudian berdasarkan banyak pertimbangan ahirnya terjadi pergantian bunyi menjadi : ketuhanan yang maha esa. Maknanya apa, budaya kita “musyawarah mufakat” bukan budaya vooting, seandainya the founding father kita bersikeras untuk vooting tentu sudah dapat dipastikan hasilnya.
          Vooting culture atau budaya vooting yang dipraktikkan bangsa Indonesia pada saat ini tidak sejalan dengan nilai demokrasi pancasila. Demokrasi pancasila dengan musyawarah mufakatnya menekankan pada kualitas keputusan. Sedangkan demokrasi liberal dengan vooting culture nya lebih menekankan pada kuantitas pembuat keputusan. Jelaslah benang merah antara keduanya, sudah sepantasnya bangsa ini kembali mengamalkan pancasila sebagai dasar dari demokrasi yang dianut.
WO (Walk Out) Culture
          Selain istilah vooting culture diatas, terdapat istilah WO (walk out) yang ahir-ahir ini juga sudah mulai menjadi budaya dikalangan para elit politik. Secara sederhana istilah WO (walk out) dapat diartikan berjalan keluar meninggalkan forum rapat dan sebagainya. Praktik walk out ini sering kita lihat saat wakil rakyat bersidang, dan biasanya walk out dilaksanakan berjamaah. Misalnya partai atau fraksi A keluar meninggalkan sidang karena pertentangan pendapat dalam sidang. Penulis merasa walk out ini sudah layak disebut sebagai budaya dalam demokrasi kita dewasa ini.
          Sebenarnya tidak terlalu rumit menganalisis WO Culture ini, karena ia saling berkaitan dengan vooting culture. Tepatnya WO Culture merupakan dampak dari vooting culture. Jadi keduanya mempunyai keterkatian yang sangat erat, dimana terjadi hubungan kausal.
          WO Culture terjadi sebagai dampak dari vooting, ketika suara terbanyak menjadi “tuhan” dan pemenang maka suara minoritas tidak diperhatikan. Sehingga timbul frem berpikir bahwa tidak ada gunanya ikut dalam sidang toh hasilnya sudah diketahui yakni suara terbanyak, kelompok minoritas memilih untuk hengkang dari pertemuan. Dalam keadaan seperti ini, kita akan berbicara masalah nilai. WO Culture merupakan cerminan bahwa hilangnya rasa kekeluargaan/kebersamaan sebagai esensi dari demokrasi pancasila. Ketika bangsa Indonesia meninggalkan demokrasi pancasila dengan musyawarah mufakatnya dengan menjadikan vooting atau suara terbanyak sebagai favorit maka pada waktu yang sama hilanglah rasa kekeluargaan/kebersamaan yang melahirkan walk out culture.
          Demokrasi pancasila jelas berbeda dengan demokrasi liberal, kendati jelas berbeda nyatanya dalam praktik keseharian nampaknya elit politik kita sulit membedakan. Sehingga banyak praktik yang telah keluar dari nilai demokrasi pancasila. Ironisnya, demokrasi kita berwajah dua, kulit berwajah pancasila dan isi berwajah liberal. Vooting Culture dan WO Culture merupakan contoh kongkrit praktik liberal, kita harus kembali kepada jati diri bangsa yaitu Pancasila. Musyawarah mufakat dan rasa kebersamaan/kekeluargaan harus dipraktikkan secara nyata sebagai inti dari demokrasi pancasila.


[1] Asrinaldi A,Handout perkuliaahan (RPKPS dan Reading Material), Kekuatan Politik Indonesia, Fisip Unand.2012